Dilansir dari Kompas.com, ditemukan sebanyak 80 hingga 90 persen kejadian bunuh diri berhubungan dengan gangguan mental emosional, terutama gangguan mental berupa depresi. Riset Kesehatan Dasar Kemenkes tahun 2018 mencatat bahwa angka prevalensi depresi di Indonesia untuk kelompok usia lebih dari 15 tahun sebesar 11.315.500 orang, dan Jawa Barat sebanyak 2.310.000 orang. Angka  yang sangat fantastik bukan? yang kita ketahui bahwa negara kita ini adalah negara dengan mayoritas orang yang beragama, namun kenyataannya masih banyak orang yang memilih untuk mengakhiri hidupnya dengan cara bunuh diri akibat depresi. Untuk itu tidak ada salahnya bagi kita untuk mengetahui seberapa depresinya kita dengan melihat ciri-ciri depresi.

Apa sih depresi itu?

Depresi adalah suatu gangguan kesehatan mental berupa perasaan sedih yang berdampak negatif terhadap pikiran, tindakan, maupun perasaan seseorang. Mungkin sebagian dari kita sudah pernah mengalami depresi, jangan menganggap enteng bahwa depresi hanyalah perasaan galau yang sedang melanda. Berbeda dengan frustasi dan stres pada umumnya lho ya. Namun, frustasi dan stres yang berkelanjutan merupakan awal dari depresi. Rasa frutasi yang terus menerus dapat menyebabkan depresi, bahkan tidak jarang orang yang mengalami depresi bisa memiliki keinginan untuk bunuh diri dikarenakan masalah yang tidak dapat terpecahkan atau adanya tekanan hidup yang berat.

Apa saja ciri-ciri depresi?

Penting untuk kita mengetahui ciri-ciri dari depresi guna mencegah hal yang tidak kita inginkan terjadi. Menurut Hello Sehat, gejala depresi seperti berikut ini.

  1. Sulit berkonsentrasi
  2. Merasa sedih atau kosong
  3. Kehilangan minat untuk melakukan aktivitas
  4. Merasa masa depannya tidak akan baik atau putus asa
  5. Cepat kelelahan dan merasa tidak berenergi
  6. Merasa gelisah atau sulit tidur
  7. Hilang minat seks
  8. Dan ditemukan juga dalam beberapa kasus percobaan bunuh diri atau menyakiti atau melukai diri sendiri seperti menyayat kulit.Penyebab depresi

Selain dikarenakan oleh faktor genetik, penyebab lain terkena depresi ialah karena stres yang tak kunjung reda, dan tekanan yang terjadi secara terus-menerus dapat menyebabkan depresi.

Tidak ada manusia yang tidak pernah merasakan depresi. Mungkin awalnya kita hanya merasa frustasi namun jika dibiarkan itu terlalu lama akan menyebabkan depresi ringan, dan dari depresi ringan itu bisa menjadi depresi berat yang mengakibatkan emosional kita semakin memburuk, parahnya lagi jika kita sudah memiliki perasaan ingin bunuh diri.

Cara Mengatasi Depresi

Ada pepatah mengatakan “lebih baik mencegah daripada mengobati”. Sebelum depresi kita semakin parah, ada baiknya kita mencegahnya. Hal yang paling mendasar saat terjadinya depresi adalah stres, pada saat stres melanda kita bisa melakukan banyak hal yang membuat stres kita berkurang atau yang biasa kita kenal dengan regulasi emosi, seperti melakukan hal-hal positif yang disukai, seperti sekedar mendengarkan musik atau mengembangkan hobi kita. cara lainnya mungkin kita bisa merefleksikan diri kita sendiri dengan cara duduk sila, tegakkan badan dan tarik nafas dalam-dalam lalu keluarkan. Cara tersebut bisa kita lakukan ketika merasa stres atau banyak pikiran.

Jika stres tak kunjung reda atau semakin parah, ada baiknya kita berkonsultasi dengan psikolog. Perlu ditekankan bahwa orang yang mendatangi psikolog bukan berarti dia sudah gila, namun dengan kita mendatangi psikolog diharapkan kita membuat keputusan yang sangat benar. Karena apa? Karena kita tidak ingin hal buruk terjadi pada diri kita dan menyebabkan kerugian pada orang-orang terdekat kita.